Mewakili Bupati, Sekda Membuka Raker Klasis XI dan Musyawarah Pelayanan Wadah Wadah Kategorial GPI Tahun 2019

Telukbintunikab.go.id-Dilangsir dari Bintuni,BM — Mewakili Bupati, Sekretaris Daerah Teluk Bintuni, Gustaf Manuputti.S.Sos.MM membuka rapat kerja XI dan musyawarah pelayanan wadah wadah kategorial Gereja Protestan Indonesia(GPI)Teluk Bintuni tahun 2019 di Kampung Suga Distrik Kaitaro, Minggu (20/10/2019).

Dalam sambutanya Gustaf Manuputti mengatakan, dewasa ini, Gereja perlu mentransformasikan misi dan panggilanya agar dapat berkembang menjadi salah satu garda terdepan dalam menyuarakan terang dan kebenaran sesuai panggilanya.

Berkaca dari sejarah perkembangan Gereja sepanjang zaman dan belajar dari pengajaran Alkitab sebagai dasar pijakan utama kehidupan, maka keberadaan Gereja mestinya membuka diri terhadap tantangan dunia ini.

Oleh sebab itu, dengan mengusung tema “Rapi tersusun dan Diikat Menjadi Satu”, maka tema rapat Klasis GPI sangat factual untuk menjawab kebutuhan Gereja saat ini. Melalui kesatuan hidup yang lahir bukan karena liturgy atau organisasi melainkan karena iman kepada Yesus, batu penjuru Gereja dan GPI Papua sebagai orang orang yang percaya kepada-nya merupakan batu batu hidup yang rapi tersusun dan didikat menjadi satu untuk kemuliaan nama Tuhan.

Lanjut Gustaf Manuputti, mengutamakan persatuan dalam menjalankan pelayanan dan pekerjaan adalah pondasi dasar yang saya yakini dapat menembus perbedaan dalam masyarakat kita yang plural sekaligus mempersatukan kita. Jika kita melayani dengan kasih, otomatis akan tercipta suatu hubungan yang harmonis antara pemerintah, adat dan agama.

Untuk itu, dalam bingkai hubungan yang harmonis inilah, secara khusus saya sampaikan terima kasih dan apresiasi atas nama pemerintah daerah atas partisipasi dan keikutsertaan GPI Papua khususnya Klasis Teluk Bintuni dalam Pembangunan sebagai mitra kerja pemerintah terutama dalam membina masyarakat.

Pada kesempatan yang baik ini, saya juga mengajak seluruh komponen GPI Papua Klasis Teluk Bintuni baik Badan Pekerja Klasis, para pelayan friman, penatua dan syamas serta seluruh jemaat agar terus bergandengan tangan dengan pemerintah daerah dalam membangun Kabupaten Teluk Bintuni agar lebih baik kedepan terutama dalam membaharui kualitas pendidikan dan pembinaan, mewujudkan pertumbuhan spiritualitas, kemandirian, kesejahteraan, perdamaian dan kebersamaan baik sebagai Gereja maupun sebagai masyarakat.

Rapat kerja GPI Klasis Teluk Bintuni merupakan momentum yang baik bagi seluruh anggota badan wilayah,d aerah dan jemaat GPI Papua Klasis Teluk Bitnuni untuk melakukan perubahan dan evaluasi program pelayanan, APB GPI Papua Klasis Teluk Bintuni tahun 2020 serta serta rancangan program pelayanan tahun 2020.

Besar harapan saya, agar rapat kerja ini dapat menghasilkan keputusan keputusan yang signifikan bagi pembentukan jemaat Tuhan yang makin mengenal dan mengasihi Tuhan di Klasisi Teluk Bintuni pada khususnya dan dalam cakupan yang lebih luas sehingga dapat turut membentuk masyarakat Teluk Bintuni yang maju, produktif dan berdaya saing,”harap Sekda.

Sementara itu, Wakili Ketua III Gereja Protestan Indonesia(GPI) Papua, Sahulata,S.Sos mengungkapkan, rapat kerja dan musyawarah pelayanan wadah wadah ini bukan sebuah ajang pengadilan.

“Biasanya ada yang tidak suka Ketua Klasis, Badan Pekerja Klasis atau Pendeta, maka di momen seperti ini menjadi sebuah pengadilan, seharusnya tidak boleh seperti itu. Sidang atau raker merupakan sebuah evaluasi,karena yang dicapai adalah keberhasilan bersama dan kegagalan juga adalah kegagalan bersama.

Mari bersama sama mengevaluasi program program untuk dijalankan tahun yang baru nanti. Dan ketika program tersebut berhasil nantinya, merupakan keberhasilan kita semua.

Untuk itu, ada beberpa hal yang perlu saya sampaikan, pertama, dalam menyusun program harus yang rasional agar bisa dilakukan. Kedua, jangan lupa kita adalah mitra pemerintah, sehingga sinkronisasi program harus sejalan dengan programnya pemerintah. Dan ketiga adalah, 2020 merupakan tahun politik dan ditahun politik tersebut biasanya orang termakan dalam isu hoax. Apalagi media social dipakai untuk menjatuhkan satu dan yang lainya.

Maka sebagai pelayan dan hamba Tuhan, kita memiliki tangunggjawab bersama bukan saja pada diri tetapi juga pada umat agar tidak terperangkap dalam berita bohong. Kalau ada berita seperti itu, kaji dengan baik dan cari tau kebenaranya setelah itu hadapi secara bijak. Karena berita hox dan lain lain akan merugikan kita semua,”ujar Sahulata(Humas&Protokoler)