BUPATI TELUK BINTUNI, Drg. Alfons Manibui, BERTEKAD TUNTASKAN KESENJANGAN


Diposting: 2009-02-04 23:25:35

Obsesi Alfons sebagai Bupati Teluk Bintuni, Propinsi Irian Jaya Barat tak terlampau muluk. Dilantik November 2005, ia bertekad untuk menuntaskan segala bentuk kesenjangan di daerahnya secara bertahap.

Tak terbersit sedikitpun Alfons saat masih belia bercita-cita untuk menjadi bupati pada suatu ketika. Saat itu yang terlintas di benak pria kelahiran Jayapura, 19 November 1965 ini adalah keinginannya yang meledak-ledak menjadi dokter. Sebuah profesi yang dalam kaca pandang masyarakat di tempat kelahirannya sebagai sebuah profesi yang cukup terhormat dan memberikan kepastian masa depan. Namun apa hendak dikata, jika suratan menentukan lain. Pelbagai jenjang jabatan dan pos penugasan beragam yang dilalui sarjana kedokteran gigi alumni Universitas Hasanuddin, Makassar ini, telah mengantarkan karier bapak tiga anak ini ke jabatan Sekretaris Daerah Kabupaten Teluk Bintuni tahun 2003. Suatu level jabatan setingkat dibawah bupati itu, dipegang Alfons selama kurang lebih dua tahun.

Maka tatkala masa jabatan bupati Teluk Bintuni kabupaten baru yang dibentuk Juni 2003, hasil pemekaran dari Kabupaten Manokwari, Propinsi Papua berakhir, Alfons yang mengawali karier PNS sebagai dokter gigi di Puskesmas Wamena Kota, Kabupaten Jayawijaya, Irian Jaya, tahun 1990 ini, memberanikan diri untuk mencalonkan diri sebagai bupati Teluk Bintuni. Hasilnya Tak meleset. Peraih gelar Master di bidang perencanaan dan manajemen proyek Universitas Bordeaux II Perancis tahun 1996, yang diusung PDI-P ini, terpilih sebagai Bupati Teluk Bintuni melalui proses pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang demokratis. Kalau dari kecil dibilang saya punya cita-cita ingin jadi bupati, itu tidak benar. Itu nggak ada. Sebab, faktanya saya jadi dokter toh, ungkap Alfons jujur kepada Agus Priyanto dan Ulisari dari B-Watch, belum lama ini di Jakarta.

Menurut dia, seperti halnya kebanyakan orang lain, ketika seseorang mencapai pada tingkatan tertentu maka ekspektasinya akan kian bertambah. Adalah hal yang lumrah, ketika seseorang mencapai pada suatu tingkatan tertentu, ia berkeinginan menjadi orang yang berguna, atau menjadi orang dibutuhkan, atau ia berharap bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Soal berbagi kebahagiaan, itu memang merupakan salah satu filosofi hidup Alfons. yang namanya kebahagiaan adalah kalau kita bisa membuat orang lain bahagia. Kalau kita saja yang bahagia, itu bukan merupakan kebahagiaan, tegasnya. Karena itulah, lanjut Alfons, ketika dirinya dipercaya menjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Teluk Bintuni, ia merasa tertantang untuk bisa berbuat lebih baik kepada masyarakat. Ia menambahkan, Keinginan saya cuma satu, tatkala melihat kondisi di Teluk Bintuni yang begitu rapuh, begitu besar kesenjangannya, maka tergerak hati untuk melakukan perubahan. Tentu saja, perubahan kearah yang lebih baik. Secara fisik, misalnya, Alfons menghendaki Bintuni bisa berkembang menjadi paling tidak, sama seperti kota kabupaten lainnya. Syukur jika lebih maju lagi. Secara nonfisik, ia menginginkan masyarakat Bintuni menjadi sebuah masyarakat yang tangguh. Tidak saja, tangguh aspek ekonominya semata, tapi juga kualitas intelektualnya, dan ketaqwaannya. Jadi, konkretnya, secara ekonomi saya mau Bintuni bisa memiliki ekonomi yang kokoh, yang berlandaskan pada ekonomi kerakyatan yang mandiri, dan juga melalui potensi sumber daya alam yang dikelola secara bijaksana. Tidak tergantung lagi pada pemerintah daerah, katanya, menandaskan.

4 Nilai etik moral dalam menjalani hidup, Alfons punya prinsip atau filosofi hidup yang bersahaja. Baginya bekerja adalah investasi. Setiap hari bekerja berarti akan ada sesuatu yang bakal tertambahkan dalam bentuk kemampuan. Dan filosofi seperti itu memberikan satu dorongan yang kuat kepada Alfons bahwa dirinya tidak bekerja untuk siapa-siapa, melainkan untuk investasi diri sehingga mampu untuk melayani masyarakat. Filosofi berikutnya, lanjut dia, untuk menjadi pemimpin, harus punya hati dulu. Kalau seorang pemimpin punya hati, niscaya bakal sayang kepada rakyat. Kalau kita sudah sayang maka baru segalanya yang lain bisa kita berikan kepada mereka, cetusnya. Tentu tidak hanya sebatas itu. Prinsip berikutnya, dan ini akhirnya diakomodir Alfons dalam tatanan pemerintahan di Kabuapten Teluk Bintuni mencakup 4 nilai etik moral. Keempat nilai tersebut juga tercakup secara apik dalam visi dan misi Kabupaten Teluk Bintuni, yang tanggal 9 Juni 2006 lalu merayakan ultahnya yang ke-3. Keempat nilai etik moral yang menjadi semacam landasan pemerintah tersebut adalah, nilai etik kasih, kejujuran, amanah dan kecerdasan. Ini yang coba diterapkan Alfons sebagai nilai etik yang menurut pandangannya harus dimiliki aparatur dan juga masyarakat. Kalau kedua unsur itu sudah mengantongi nilai etik seperti itu, maka diharapkan roda pemerintahan, derap pembangunan, serta pelayanan kepada masyarakat, bisa berjalan mulus tanpa kendala yang berarti.

Alfons memang tidak sekedar berfilosofi. Namun, ia mencoba menyerap pengalaman riil dalam kehidupan sehari-hari, serta mengemasnya dalam bentuk kebijakan yang sangat layak untuk diterapkan. Kata dia, dalam banyak hal, bangsa ini cerdas, pemimpinnya cukup amanah, ada proses demokrasi yang terjadi. Cuma memang, jujur harus diakui belum semua pemimpin mempunyai kesiapan mental, atau kurang punya kasih untuk bisa mengembalikan semuanya ke masyarakat. Yang saya maksud adalah, apapun yang kita terima sekarang di kabupaten sebagai penerimaan daerah, itu kan harus kita wujudkan dalam bentuk pembangunan. Nah, kalau kita punya hati, kasih, kita akan kembalikan seluruhnya. Sepenuhnya untuk rakyat lagi, katanya, menguraikan.

Tuntaskan kesenjangan. Seperti halnya kabupaten lain di wilayah Papua dan Irian Jaya Barat, pembangunan di Kabupaten Teluk Bintuni diprioritaskan pada hal-hal yang bertautan langsung dengan peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan manusia: kualitas sumber daya manusia (SDM). Contoh konkretnya, dibidang pendidikan dan kesehatan masyarakat.

Tapi kedua bidang yang sangat dibutuhkan masyarakat itu harus di-support secar simultan denga pembangunan ekonomi kerakyatan yang tangguh, dan pengembangan infrastruktur. Infrastruktur tidak bisa dipisahkan, karena menurut saya, kalau kita kehendaki agar pendidikan bisa berjalan baik, kesehatan bisa dilakukan secara efektif, serta ekonomi rakyat mau ditingkatkan maka harus ada infrastruktur. Jadi, ini tidak bisa dipisahkan. Mempunyai grade yang sama, alias sama prioritasnya, tandasnya. Itu pula sebabnya, tak heran dibidang pendidikan dan kesehatan saat ini menempati prioritas yang sangat tinggi di Kabupaten Teluk Bintuni. Paling tidak, hal itu tercermin dari besarnya anggaran yang dialokasikan untuk dua pos tersebut dalam APBD Kabupaten Teluk Bintuni tahun 2006. Bidang pendidikan memperoleh alokasi anggaran berkisar Rp.55-60 miliar. Sementara bidang kesehatan memperoleh anggaran Rp.45 miliar. Dalam persentase, keduanya mencapai kisaran 20-30 persen dari alokasi penerimaan. Itu merupakan porsi yang tidak kecil, dan sekaligus menunjukkan komitmen kami untuk kedua komponen tadi. Disamping tentunya juga program pembangunan ekonomi kerakyatan yang sedang terus kita coba untuk galakkan, papar bupati.

Yang menarik, pelbagai program pembangunan yang sedang dan akan dilaksanakan di Kabupaten Teluk Bintuni tersebut, dikemas dalam satu strategi besar (grand strategy), yakni strategi penuntasan kesenjangan. Strategi yang terbilang cuku mulia ini berangkat dari kenyataan antara Papua dengan daerah lainnya selama ini telah terjadi kesenjangan. Pun halnya antara daerah satu dengan daerah lainnya di Papua.

Kita mencoba menuntaskan kesenjangan antara Kabupaten Teluk Bintuni dengan kabupaten lainnya yang sudah lebih maju di Papua. Kemudian antara satu kecamatan dengan kecamatan lain di Bintuni. Lantas, antara satu kampung dengan ibukota kecamatan, atau ibukota kabupaten, katanya. Kesenjangan yang dimaksud sang bupati ini dalam tatanan yang tidak sempit. Tapi, dalam segala sendi kehidupan masyarakat. Utamanya, kesenjangan dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup mendasar, seperti sandang, pangan, serta papan. Jadi memang kebijakan dan strategi program pembangunan di Bintuni, kita senantiasa arahkan pada penuntasan kesenjangan dengan fokus pertama pada upaya pemenuhan kebutuhan hak hidup dasar sehingga menjadi menjadi setara dengan saudara-saudara yang lain dalam konteks ini tentunya.

Melalui program penuntasan kesenjangan itu, suami dari Ir. Harlina Husain ini punya obsesi kuat: ingin menyaksikan warga Teluk Bintuni pada suatu saat nanti, menjadi rakyat yang tangguh, dan maju. Tak hanya sekedar rakyat yang tangguh. Tapi, kondisi pembangunan fisik di kabupaten ini bisa berkembang menjadi kabupaten yang sedikit berbeda dengan kabupaten lainnya. Alfons juga punya keinginan kuat agar Bintuni bisa tumbuh dan berkembang menyerupai kabupaten atau kota seperti yang ada di luar negeri. Yakni, sebuah kabupaten yang tertata rapi, taat pada aturan, harmonis, serta punta lingkungan yang asri.

Apa yang diobsesikan Alfons tersebut bukan hal yang musykil akan terwujud. Pasalnya, meski baru seusia balita, Kabupaten Teluk Bintuni dikarunia potensi sumber daya alam yang cukup melimpah. Tidak hanya hasil hutan dan perikanan, tapi juga potensi cadangan gas alamnya yang bejibun. Di Kabupaten ini pula, cadangan gas alam yang jumlahnya triliunan kaki kubik ini akan diproses menjadi gas alam cair (Liquid Natural Gas/LNG) oleh BP Tangguh, untuk kemudian di ekspor ke luar negeri. Terdapat juga minyak bumi yang telah dieksploitasi sejak zaman belanda dulu serta batubara dengan kualitas yang sangat baik yang sedang dieksplorasi saat ini. Sejumlah potensi sumber daya alam ini, jika dikelola dengan baik dan transparan akan mendatangkan manfaat yang sangat besar bagi kesejahteraan rakyat di Teluk Bintuni. Dan Alfons sangat meyakini skenario seperti itu. Saya cukup optimis dalam melihat potensi keberhasilan pembangunan di Kabupaten Teluk Bintuni ini, ujarnya penuh optimis.

Dengan kondisi kabupaten baru yang relatif belum memiliki apa-apa, jika ditata dan dikelola secara baik dan bijak, bukan hal yang mustahil suatu ketika akan tumbuh menjadi sebuah kota yang patut diperhitungkan di republik ini. Semuanya itu bisa terwujud asal ditopang oleh tindakan aparaturnya yang mampu menjadikan prinsip clean and good governance dalam tatanan pemerintah kita.

Selain itu, yang juga tak kalah penting adalah adanya komitmen yang kuat di jajaran aparatur pemerintah untuk mengembalikan seluruh penerimaan dari pengelolaan sumber daya alam tadi ke masyarakat dalam bentuk perbaikan kesejahteraan rakyat Bintuni. Landasan ini dijabarkan melalui konsep pengembangan distrik mainstreaming yang kemudian dibarengi dengan perkuatan keuangan distrik dan kampung yang dialokasikan menurut azas adil-merata. Artinya bahwa; terdapat dana alokasi minimal yang sama untuk semua wilayah, kemudian ada juga dana alokasi proporsional yang dibagi berdasarkan hasil yang dimiliki oleh kampung atau distrik tersebut.



Peta Situs | Kontak | Webmail
© Copyright Pemda Teluk Bintuni 2013. All Right Reserved
Kompleks Perkantoran Bupati, Jl. Bintuni - Manokwari, Distrik Manimeri
e-mail: info@telukbintunikab.go.id