KABUPATEN TELUK BINTUNI BERBENAH DIRI MERAJUT MASA DEPAN


Diposting: 2009-02-04 23:19:27

Kabupaten Teluk Bintuni yang kini baru berusia tiga tahun memiliki kekayaan alam yang sungguh melimpah. Pelbagai pembangunan infrastruktur seperti lapangan terbang dan pelabuhan untuk mendukung kondusifnya kegiatan investasi sedang dilakukan. Pun halnya jaminan keamanan dan kemudahan perijinan investasi. Usia Teluk Bintuni sebagai kabupaten baru , memang masih tergolong Balita. Namun, soal semangat dan tekadnya untuk menata diri jangan ditanya. Maklum, saat ini kabupaten hasil pemekaran kabupaten Manokwari di provinsi Papua ini, sedang giat-giatnya melancarkan pelbagai bentuk pembangunan.

Di bawah kendali Drg. Alfons Manibui DESS, sang Bupati dan Drs. Akuba Kaitam yang dilantik November 2005 lalu, Kabupaten Teluk Bintuni ibarat sebuah daerah baru yang ?haus? akan derap pembangunan. Derap pembangunan ini tidak sebatas menyiapkan Infrastruktur pemerintahan, sarana pelayanan kepentingan umum, tetapi juga melakukan penataan terhadap sistem pemerintahan dan pelayanan umum melalui berbagai pembentukan regulasi-regulasi daerah yang adaptif dan bersifat lokal spesifik, yang memungkinkan pemerintahan baru ini dapat berjalan melalui sistem yang lebih baik. Hanya memang, lantaran keterbatasan dana, PemDa Kebupaten Teluk Bintuni untuk saat ini belum dapat sepenuhnya memprioritaskan pembangunan Infrastruktur diatas pembangunan bidang lainnya. Tapi PemDa setempat masih memberdayakan fasilitas Infrastruktur yang telah tersedia. Untuk kebutuhan kantor Bupati, misalnya, digunakan bekas kantor distrik (kecamatan) lama yang telah direhab menjadi kantor Bupati sementara. ?Pembangunan kantor Bupati definitif sedang digarap, kami lakukan secara bertahap.? Demikian halnya, untuk pelbagai kantor yang merupakan perangkat daerah di bawah PemDa kabupaten Teluk Bintuni.

Kondisi serupa juga mengena pada infrastruktur publik. Hampir semuanya masih dalam tahap pembangunan dan pembenahan.? Ini tahun ketiga kami mulai mengembangkan Infrastruktur publik, ? kata Allfons kepada B-Watch, belum lama ini. Namun, harus diakui bahwa gerak pembangunan yang mengesankan ?Slow but Sure? itu, terbilang mendingan ketimbang kali pertama Teluk Bintuni dikukuhkan sebagai Kabupaten baru, tiga tahun silam. Dulu, jalan di Kota Bintuni belum seluruhnya beraspal, tapi mulai tahun ini ruas jalan di tengah kota sepanjang 6 km terlihat mulus lantasan sudah dilapisi aspal. Akan halnya jalan pengerasan, telah banyak terhampar di kabupaten yang dalam peta bumi Indonesia terletak di leher kepala burung pulau Irian Jaya tersebut. Infrastruktur publik yang saat ini juga tengah dibangun di Bintuni mencakup pembangunan pasar besar untuk mendukung kegiatan perdagangan, serta pembenahan bandara. Untuk saat ini landasan pacu di bandara Bintuni baru tersedia sepanjang 600 meter. Karena landasan pacu terbatas, bandara ini baru sanggup melayani pendaratan jenis pesawat berbadan sempit seperti Twin Otter yang berkapasitas 17 penumpang. Toh demikian, maskapai penerbangan yang membuka jalur ke kota ini sudah mulai ramai. Sebut saja Merpati Nusantara Airlines, Express Air dan beberapa maskapai lainnya. ?Hanya frekwensi terbangnya sekarang sudah cukup bagus. Akses adari Manokwari ke Bintuni atau sebaliknya bahkan 3-4 kali/hari, ke Sorong sekali/hari dan bahkan dari Bintuni ke Babo juga tersedia jalur penerbangan inisetiap hari? ungkap bupati yang menyabet gelar master dibidang manajemen proyek dari Universitas Bordeaux II Perancis ini.

Setali tiga uang, fasilitas pelabuhan yang tersedia di kabupaten ini juga tergolong sangat terbatas. Yakni, baru bisa digunakan untuk bongkar-muat kapal-kapal berbobot kecil dan menengah. Untuk kapal ukuran besar belum bisa merapat.

Untuk kebutuhan penerangan listrik, Bintuni hingga kini masih mengandalkan pembangkit listrik berbahan bakar minyak (PLTD). Dulu sewaktu dikelola PLN, karena kian mahalnya harga minyak solar, listrik dengan kapasitas 1400 kilowatt di kabupaten itu hanya sanggup menyala 6 jam. Namun setelah diambil alih pengelolaannya oleh pemda melalui BUMD ? karena PLN ?menyerah? ? listrik di wilayah ini tidak lagi mengalami pemadaman bergilir. Tapi sudah sanggup menyala penuh selama 24 jam sehari. Sebelum saya jadi bupati, listrik hanya menyala 6 jam. Setelah kami subsidi Rp.7 miliar setahun, lampu bisa menyala selama 22-24 jam. Waktu itu, kami juga menambahkan sekitar 700 sambungan baru ke masyarakat sebagai subsidi, karena masyarakat tidak sanggup untuk memasang meteran,? jelas bupati.

Potensi SDA melimpah dalam percaturan bisnis minyak dan gas bumi, nama bintuni sejatinya sudah terkenal sejak beberapa tahun lalu. Utamanya, ketika di lapangan Tangguh yang dulunya menjadi wilayah administratif Kabupaten Manokwari, dan kini menjadi wilayah administratif Kabupaten Teluk Bintuni, ditemukan cadangan gas bumi yang luar biasa melimpah. Yakni, mencapai triliunan kaki kubik

Tapi, secara keseluruhan Kabupaten Teluk Bintuni yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Manokwari, 3 tahun silam, kaya sekali akan potensi sumber daya alam. Entah itu berupa bahan tambang umum, minyak dan gas, maupun batu-batuan lain. Dari sumber daya alam yang melimpah tersebut, yang kini telah dieksplorasi adalah pertambangan batubara dengan kandungan kalori yang lumayan bagus mencapai 5.000-8.000 kal/kg. Sejak jaman belanda, Bintuni juga kesohor dengan eksploitasi batubaranya. Tambang emas kini juga dalam tahap eksplorasi. Akan halnya pertambangan non umum, yakni minyak dan gas kini sedang masuk dalam tahap konstruksi. Adalah raksasa perusahaan migas internasional British Petroleum (BP) Tangguh yang kini sedang membangun konstruksi kilang gas alam cair (Liquid Natural Gas/LNG) di lapangan Tangguh, yang produksinya bakal diekspor ke sejumlah negara. Tahun 2008, kilang LNG yang dibangun BP Tangguh ditargetkan mulai berproduksi.

Diluar pertambangan, Bintuni juga memiliki potensi hutan yang menghasilkan kayu yang terkategori besar sekali. Itu sebabnya waktu digelar OHL (Operasi Hutan Lestari) oleh aparat gabungan ? untuk menertibkan penebangan illegal (illegal logging) ? beberapa saat lalu, di Kabupaten Teluk Bintuni cukup banyak ditemukan kayu hasil pembalakan liar itu. Selain kayu, hasil hutan yang cukup melimpah di Bintuni antara lain adalah: gaharu, damar, rotan dan kulit masohi.

Dibidang perikanan, Bintuni juga dikaruniai potensi ikan dan udang yang menjanjikan. Potensi udang ini juga tergolong cukup besar. Karena itu tidak heran bila di kabupaten ini memiliki pabrik udang yang menangani pengepakan udang beku (cold storage). Udang ini ditangani sejak beberapa tahun lalu oleh Jayanti Grup. Selain itu, sejak beberapa tahun lalu perkebunan sawit juga sudah mulai dikembangkan di kabupaten ini. Saat ini tercata areal perkebunan kalapa sawit dengan luasan mencapai 34.000 hektar yang sudah mulai berproduksi. ?Sekarang sudah pengiriman CPO (Crude Palm Oil) yang ketiga kali. Dulu dikelola oleh Jayanti, dan kini oleh Varita Inti. Mereka bermitra dengan Jayanti,? papar Alfons.

APBD Teluk Bintuni dari tahun ke tahun, anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Kabupaten Teluk Bintuni mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Tahun 2005 lalu, misalnya APBD Kabupaten Teluk Bintuni baru berada pada kisaran Rp.200 miliar. Namun tahun ini jumlahnya telah membengkak menjadi Rp.439 Miliar. Peningkatan APBD ini, kata Bupati Alfons, terutama karena penerimaan daerah dari bagi hasil Migas dan Non-Migas. Penerimaan Non-migas itu disumbang dari hasil kayu, hasil hutan lainnya, perikanan dan lainnya. Sementara kontribusi dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) belum terlalu besar. PAD ini diperkirakan baru meningkat cukup signifikan tahun ini, dengan adanya BP Tangguh yang mulai membangun kontruksi kilang LNG perusahaan Migas asing itu banyak membayar retribusi. Jadi saya perkirakan PAD-nya bisa meningkat lumayan tinggi tahun ini. Di samping itu, kita juga berdayakan perda-perda untuk bahan galian C. Kemudian ada juga perda untuk BUMD. Mungkin untuk tahun 2007 akan ada peningkatan drastis untuk PAD?, katanya optimis.

Dengan luas wilayah yang mencapai 186 km2, dengan jumlah warganya yang hanya 45.000 jiwa, tingkat kepadatan penduduk di Kabupaten baru ini memang terkategori sangat rendah. Tingkat kepadatan penduduk di Teluk Bintuni baru 1,5 hingga 2 orang per km2. Istilahnya kabupaten ini masih sanggup untuk menampung kaum urban dari penjuru tanah air. Secara pukul rata, tingkat kepadatan masyarakat Teluk bintuni belumlah terbilang lumayan. Pendapatan rata-rata mereka, jika dibandingkan terhadap harga konstan Cuma sekitar 2,6 juta per-kapita per-tahun. Untuk tahun 2005, harga konstan yang diberlakukan di kabupaten tersebut cukup mahal, mencapai Rp 8,2 juta .



Peta Situs | Kontak | Webmail
© Copyright Pemda Teluk Bintuni 2013. All Right Reserved
Kompleks Perkantoran Bupati, Jl. Bintuni - Manokwari, Distrik Manimeri
e-mail: info@telukbintunikab.go.id