Prospek Pertanian Organik di Papua


Diposting: 2006-03-20 09:44:22

Karena pemakaian zat ini relatif masih terkontrol dan cenderung masih sedikit, disamping harganya yang relatif lebih mahal (dibandingkan di luar Papua) juga terbatas jumlahnya. Bandingkan dengan di luar Papua (khususnya P. Jawa) yang sebagian besar lahan pertaniannya sudah tercemar akibat pemakaiaan pupuk anorganik berlebih. Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa hasil produksi berbagai macam tanaman sayuran di Papua produktivitasnya hampir sama antara pemakaian pupuk organik dengan pemakaian pupuk anorganik. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kasim, dkk (2004) produksi cabe, tomat, casein dan kubis dengan pemakaian pupuk organik (bokashi) berturut-turut 5,1 ton/ha, 12,7 ton/ha, 9,6 ton/ha dan 19,8 ton/ha. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya lahan di Papua masih produktif walaupun tanpa menggunakan pupuk anorganik.

Kesadaran konsumen mengenai pentingnya mengkonsumsi hasil pertanian yang bebas dari residu zat kimia, memberikan potensi yang besar bagi perkembangan pertanian organik yang ramah lingkungan. Untuk itu potensi besar ini harus segera direspon oleh wirausahawan agribis di Papua. Sumber daya lahan mendukung, potensi bahan baku melimpah, ini merupakan lahan potensial untuk penerapan sistem pertanian organik. Model pertanian organik dewasa ini sedang gencar-gencarnya dipromosikan terutama oleh Negara-negara maju. Di beberpa Negara maju (Eropa dan Amerika Serikat) permintaan akan produk pertanian organik baik fisik maupun olahan semakin tinggi. Pada tahun 2003, permintaan produk pangan organik mencapai 11 13 milyar dollar AS (11 13 milyar $ AS), dengan laju pertumbuhan pertahunnya berkisar antara 15 20 % (Kortbeck Olesen, 2003 dalam Sumaryono, 2005).

Lahan pertanian organik paling luas terdapat di Australia (10,5 juta ha), bandingkan dengan di Indonesia yang masih 40.000 ha (0,09 % dari total lahan pertanian yang ada) (Sumaryono,2005). Nilai jual produk pertanian organik relatif lebih tinggi dibandingkan dengan produk konvensional untuk produk sejenis. Harga tinggi ini, karena produk organik lebih sehat, aman (bebas residu zat kimia).

Kendala Pengembangan
Kebanyakan petani yang sudah terbiasa dengan produk an organik akan sulit menerima inovasi pertanian organik. Ada beberapa hal yang menyebabkan sistem pertanian organik sulit diterima oleh beberapa petani, diantaranya :
- reaksi pupuk organik lebih lambat dibandingkan dengan pupuk an organik
- produksi lebih rendah jika dibandingkan dengan pupuk an organik
- kurangnya komposisi yang tepat mengenai pertanian organik.
Dari ketiga hal di atas, point (1) dan (2) yang relative lebih dominant, mengapa petani sulit memerima inovasi pertanian organik. Namun jika diberikan penyuluhan yang tepat mengenai manfaat dan keuntungan pertanian organik, lambat laun, mereka akan beralih ke sistem pertanian organik. Di beberapa tempat di Jawa, sistem pertanian organik banyak diterapkan, terutama di sentra sentra agribisnis (perusahaan/sentra agro).

Secara kasat mata, agak susah membedakan yang mana produk pangan organik dengan produk pangan an organik. Biasanya untuk mengantisipasi konsumen salah pilih produk organik, beberapa perusahaan memberikan label/sertifikasi pada kemasan produk organik yang dijual. Cara ini yang oleh sebagian besar petani kita sangat memberatkan, mengingat mahalnya biaya pengurusan sertfikasi. Selain itu, lambatnya layanan atau lembaga yang mempunyai wewenang mengeluarkan sertifikasi, terutama di daerah Papua, yang relative lebih jauh dengan ibu kota Negara.

Oleh : Aminudin, S.TP dan B. Nelfie H. Sopacua, SP *)
*) Keduanya Staf Pengajar di STPP Manokwari



Peta Situs | Kontak | Webmail
© Copyright Pemda Teluk Bintuni 2013. All Right Reserved
Kompleks Perkantoran Bupati, Jl. Bintuni - Manokwari, Distrik Manimeri
e-mail: info@telukbintunikab.go.id